Jumat, 14 September 2012

GPS Vehicle Tracker Max-303

Dengan memanfaatkan teknologi Global Positioning System (GPS) dan GSM/GPRS, sistem ini memungkinkan client mengetahui lokasi kendaraannya yang dimonitor, secara real-time dan otomatis. Pemakai dapat melihat lokasi, arah, kecepatan dan rute yang dilalui kendaraannya pada peta digital yang ditampilkan di layar komputer ataupun smart phone.

  • Meningkatkan produktifitas pemakaian kendaraan
  • Meningkatkan keamanan kendaraan, termasuk dari resiko pencurian
  • Memantau posisi kendaraannya kapan saja secara real time
  • Menekan resiko penyalahgunaan kendaraan,
  • Mempermudah komunikasi antara pemilik kendaraan dengan pengemudi
  • Menekan biaya operasional kendaraan
Fitur GPS Tracker Vehicle
  • Melacak posisi kendaraan via SMS atau Internet
  • Laporan lokasi kendaraan terkini
  • Melacak kendaraan dengan interval waktu yang ditentukan
  • Tombol SOS Panic
  • Pembatasan area gerak kendaraan / GEO-Fencing
  • Peringatan saat baterai lemah ( bila sumber listrik utama diputus )
  • Peringatan batas kecepatan
  • Mematikan sistem mesin jarak jauh via HP
Detailed Specification:
Modul berbasis GSM dan GPRS (850/900/1800/1900MHz)
Pelacakan melalui SMS dan Internet ( web tracker dan GoogleEarth )

Mengapa menggunakan GPS Vehicle Tracker Max-303
  • Processor Terbaru (Cepat dan Stabil) menggunakan ARM 7
  • Dual Mode Interval Tracking(Interval Jarak Tempuh & Interval Waktu )
  • Low Cost (Hemat Pulsa, Online 30 x 24 Jam )
  • Mode SMS & Internet GPRS dapat Bekerja Secara Bersamaan
  • Low Battery Consumption
  • Web Tracker monitoring
  • SIM CARD GSM PRA-BAYAR
  • Technical Support 24 Jam
  • Tanpa Abonement Bulanan
  • Hemat Pulsa
  • Dilengkapi fasilitas cek pulsa
Estimasi biaya rutin operasional bulanan :
Penggunaan pulsa GSM perbulan untuk mode GPRS antara Rp 25.000,- s/d Rp 35.000,- per unit ( dikelola sendiri oleh client )
GPS Vehicle Tracker Max 303 Diaplikasikan untuk :
Truck , Bus, Armada logistik atau Rent a Car

Selasa, 10 April 2012

GPS Tracker

Global Positioning System (GPS)) adalah sistem untuk menentukan posisi di permukaan bumi dengan bantuan sinkronisasi sinyal satelit. Sistem ini menggunakan 24 satelit yang mengirimkan sinyal gelombang mikro ke Bumi. Sinyal ini diterima oleh alat penerima di permukaan, dan digunakan untuk menentukan posisi, kecepatan, arah, dan waktu. Sistem yang serupa dengan GPS antara lain GLONASS Rusia, Galileo Uni Eropa, IRNSS India.

Sistem ini dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat, dengan nama lengkapnya adalah NAVSTAR GPS (kesalahan umum adalah bahwa NAVSTAR adalah sebuah singkatan, ini adalah salah, NAVSTAR adalah nama yang diberikan oleh John Walsh, seorang penentu kebijakan penting dalam program GPS).[1] Kumpulan satelit ini diurus oleh 50th Space Wing Angkatan Udara Amerika Serikat. Biaya perawatan sistem ini sekitar US$750 juta per tahun,[2] termasuk penggantian satelit lama, serta riset dan pengembangan.

GPS Tracker atau sering disebut dengan GPS Tracking adalah teknologi AVL (Automated Vehicle Locater) yang memungkinkan pengguna untuk melacak posisi kendaraan, armada ataupun mobil dalam keadaan Real-Time. GPS Tracking memanfaatkan kombinasi teknologi GSM dan GPS untuk menentukan koordinat sebuah obyek, lalu menerjemahkannya dalam bentuk peta digital.

Cara Kerja

Sistem ini menggunakan sejumlah satelit yang berada di orbit bumi, yang memancarkan sinyalnya ke bumi dan ditangkap oleh sebuah alat penerima. Ada tiga bagian penting dari sistem ini, yaitu bagian kontrol, bagian angkasa, dan bagian pengguna.
Bagian Kontrol
Seperti namanya, bagian ini untuk mengontrol. Setiap satelit dapat berada sedikit diluar orbit, sehingga bagian ini melacak orbit satelit, lokasi, ketinggian, dan kecepatan. Sinyal-sinyal sari satelit diterima oleh bagian kontrol, dikoreksi, dan dikirimkan kembali ke satelit. Koreksi data lokasi yang tepat dari satelit ini disebut dengan data ephemeris, yang nantinya akan di kirimkan kepada alat navigasi kita.

Bagian Luar Angkasa
Bagian ini terdiri dari kumpulan satelit-satelit yang berada di orbit bumi, sekitar 12.000 mil di atas permukaan bumi. Kumpulan satelit-satelit ini diatur sedemikian rupa sehingga alat navigasi setiap saat dapat menerima paling sedikit sinyal dari empat buah satelit. Sinyal satelit ini dapat melewati awan, kaca, atau plastik, tetapi tidak dapat melewati gedung atau gunung. Satelit mempunyai jam atom, dan juga akan memancarkan informasi ‘waktu/jam’ ini. Data ini dipancarkan dengan kode ‘pseudo-random’. Masing-masing satelit memiliki kodenya sendiri-sendiri. Nomor kode ini biasanya akan ditampilkan di alat navigasi, maka kita bisa melakukan identifikasi sinyal satelit yang sedang diterima alat tersebut. Data ini berguna bagi alat navigasi untuk mengukur jarak antara alat navigasi dengan satelit, yang akan digunakan untuk mengukur koordinat lokasi. Kekuatan sinyal satelit juga akan membantu alat dalam penghitungan. Kekuatan sinyal ini lebih dipengaruhi oleh lokasi satelit, sebuah alat akan menerima sinyal lebih kuat dari satelit yang berada tepat di atasnya (bayangkan lokasi satelit seperti posisi matahari ketika jam 12 siang) dibandingkan dengan satelit yang berada di garis cakrawala (bayangkan lokasi satelit seperti posisi matahari terbenam/terbit).

Ada dua jenis gelombang yang saat ini dipakai untuk alat navigasi berbasis satelit pada umumnya, yang pertama lebih dikenal dengan sebutan L1 pada 1575.42 MHz. Sinyal L1 ini yang akan diterima oleh alat navigasi. Satelit juga mengeluarkan gelombang L2 pada frekuensi 1227.6 Mhz. Gelombang L2 ini digunakan untuk tujuan militer dan bukan untuk umum.

Bagian Pengguna
Bagian ini terdiri dari alat navigasi yang digunakan. Satelit akan memancarkan data almanak dan ephemeris yang akan diterima oleh alat navigasi secara teratur. Data almanak berisikan perkiraan lokasi (approximate location) satelit yang dipancarkan terus menerus oleh satelit. Data ephemeris dipancarkan oleh satelit, dan valid untuk sekitar 4-6 jam. Untuk menunjukkan koordinat sebuah titik (dua dimensi), alat navigasi memerlukan paling sedikit sinyal dari 3 buah satelit. Untuk menunjukkan data ketinggian sebuah titik (tiga dimensi), diperlukan tambahan sinyal dari 1 buah satelit lagi.

Dari sinyal-sinyal yang dipancarkan oleh kumpulan satelit tersebut, alat navigasi akan melakukan perhitungan-perhitungan, dan hasil akhirnya adalah koordinat posisi alat tersebut. Makin banyak jumlah sinyal satelit yang diterima oleh sebuah alat, akan membuat alat tersebut menghitung koordinat posisinya dengan lebih tepat.

Karena alat navigasi ini bergantung penuh pada satelit, maka sinyal satelit menjadi sangat penting. Alat navigasi berbasis satelit ini tidak dapat bekerja maksimal ketika ada gangguan pada sinyal satelit. Ada banyak hal yang dapat mengurangi kekuatan sinyal satelit:

    Kondisi geografis, seperti yang diterangkan di atas. Selama kita masih dapat melihat langit yang cukup luas, alat ini masih dapat berfungsi.
  •     Hutan. Makin lebat hutannya, maka makin berkurang sinyal yang dapat diterima.
  •     Air. Jangan berharap dapat menggunakan alat ini ketika menyelam.
  •     Kaca film mobil, terutama yang mengandung metal.
  •     Alat-alat elektronik yang dapat mengeluarkan gelombang elektromagnetik.
  •     Gedung-gedung. Tidak hanya ketika di dalam gedung, berada di antara 2 buah gedung tinggi juga akan menyebabkan efek seperti berada di dalam lembah.
    Sinyal yang memantul, misal bila berada di antara gedung-gedung tinggi, dapat mengacaukan perhitungan alat navigasi sehingga alat navigasi dapat menunjukkan posisi yang salah atau tidak akurat.

Selasa, 24 Mei 2011

Avanza Curian Ditembak Polisi di Cilandak, Terlacak Berkat GPS

E Mei Amelia R - detikNewsJakarta - Petugas Polres Jakarta Pusat menembak mobil Toyota Avanza hitam di perempatan Trakindo (Cilandak), Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Mobil Avanza itu merupakan hasil curian. Saat ini pengemudi mobil tersebut telah diamankan polisi.


Pemilik mobil adalah warga Jakarta Pusat sehingga melaporkan ke polisi wilayah tersebut.

"Mobil itu hasil curian, laporannya masuk ke Polsek pukul 03.00 WIB," kata Kapolres Jakarta Pusat Kombes Hamidin saat dihubungi detikcom, Selasa (24/5/20110 pukul 13.00 WIB.

Hamidin menjelaskan, mobil curian itu bisa dilacak petugas karena dilengkapi GPS. Setelah menerima laporan korban, polisi mencari mobil tersebut. Piranti GPS membuat polisi mudah melacak mobil itu sehingga polisi lantas mencium jejaknya.

Ketika dikejar polisi, pelaku pencurian mobil itu sempat ingin melarikan diri dengan cara mencoba menabrak petugas.

"Jadi kita sempat melepaskan tembakan peringatan. Pelakunya satu orang dan sudah kita amankan," kata Hamidin. Penembakan oleh polisi itu terjadi sekitar pukul 11.00 WIB.

Penembakan itu sempat menimbulkan kegaduhan di TKP. Namun saat ini TKP telah steril.
(nal/nrl)

source